Muhammad ibn Abdul Wahab dan Pembaharuan Islam

July 29, 2017



Pembaharuan yang dilakukan oleh Muhammad ibn Abdul Wahab yang kita kenal sekarang dengan sebutan Wahabi. Jargonnya adalah kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah. Pembaharuan ini dilatarbelakangi karena perbuatan menyimpang dan bahkan dianggap syirik. Seumpama meng-keramat-kan makam-makan para wali, menghias-hias makamnya, serta berdoa yang seakan-akan meminta kepada selain Allah.

 Muhammad ibn Abdul Wahab (1703 – 1787 M)
Nama lengkapnya Muhammad ibn Abdul Wahab ibn Sulaiman ib Ali ibn Muhammad ibn Ahmad ibn Rasyid ibn Barid ibn Muhammad ibn al-Masyarif al-Tarmini al-Hanbali al-Najed. Dilahirkan di kampung di Uyainah, Najed 70 km sebelah barat daya Riyadh, Arab Saudi. Ayahnya bernama Abdul Wahab ibn Sulaiman seorang ketua jabatan agama setempat. Kakeknya Sulaiman ibn Ali seorang mufti besar di Najed.

Dia hafal al-Qur’an pada usia 10 tahun. Selain itu dia senang membaca buku-buku tafsir, hadis, dan fikih. Alur pendidikannya dimulai dari ayahnya yang sangat terpengaruh oleh madzhab Hanbal. Kemudian berguru kepada Syaikh Sulaiman al-Kurdi dan Muhammad Hayyat al-Sindi di Madinah.

Selanjutnya dia juga banyak melakukan perjalanan ke berbagai negara. Di antaranya Bashrah selama 4 tahun, di Baghdad selama 5 tahun, di Kurdistan selama 1 tahun, di Hamazan 2 tahun, kemudian mempelajari filsafat dan tasawuf di Isfahan 4 tahuan, dan terakhir 1 tahun di kota Qum.

Muhammad ibn Abdul Wahab memiliki ketertarikan terhadap ajaran Ahmad ibn Hanbal dan Ibn Taimiyah. Rangkaian perjalanan panjang Ibn Abdul Wahab menuntut ilmu dari satu kota ke kota lain, telah memperkuat wawasan pemikirannya.

Sufisme adalah doktrin yang ditentang oleh ibn Abdul Wahab, apalagi konsep kesatuan wujud ibn ‘Arabi (w. 638 H/ 1240 M). Muhammad ibn Abdul Wahab berusaha meluruskan kajian fikih dan hanya mengakui dua otoritas saja, yaitu al-Qur’an dan Sunah Nabi. Akan tetapi karena hadis dikumpulkan pada abad 3 H, maka pengikut Ibn Abdul Wahab mengubah pandangan mereka dan menerima kekuatan ijma’.

Di antara mereka yang berjasa melahirkan gerakan ketauhidan adalah:

Pertama, Amir Uyainah, Utsman ibn Muhammad ibn Ma’mar. Ibn Abdul Wahab sempat diterima baik oleh Amir. Akan tetapi para bawahan Amir tidak sependapat dan mengancam tidak akan membayar upeti. Akhirnya Ibn Abdul Wahab diusir dari Uyainah.

Kedua, Muhammad ibn Saud. Dia mendukung dan menyanggupi untuk menyebarkan ide-ide Ibn Abdul Wahab. Dia mampu merebut Riyadh ke tangan Wahabi, kemudian membangun agama seperti zaman Rasulullah, seperti membangun masjid berlantai tanah.  Ketiga, Abdul Azis ibn Saud. Dia mengajarkan paham Wahabi sampai ke Irak. Pada 1811 imperium Wahabi membentang ke seluruh jazirah Arab.

Imperium Wahabi sempat melemah, karena dihancurkan oleh Muhammad Ali (gubernur Mesir) dan Turki Usmani. Namun kepemimpinan tersebut kembali pada saat kepemimpinan Abdul Azis ibn Abdurrahman, di mana seluruh Hijaz (Mekah dan Madinah) serta Jedah dikuasai oleh Abdul Azis hingga berdiri kerajaan Saudi sampai kini.

Muhammad ibn Abdul Wahab wafat pada 1787 M.

Karya-kaya Muhammad ibn Abdul Wahab

Muhammad ibn Abdul Wahab juga aktif menulis. Beberapa karyanya antara lain:
·               Kitab Tauhid
·               Kasyaf al-Syubhat
·               al Kabair,
·               Mukhtasar sirat Ar Rasul,
·               Masa’il Al Jahiliah,
·               Usul Al Iman,
·               Fadai’l Al Qur’an,
·               Fadai’l Al Islam,
·               Majmu’al Al Hadis,
·               Mukhtasar Al Insaf wa Asy Syarh Al Kabair,
·               Al Usul Ats Tsalatsah,
·               Adab Al Masyi ila Ash Salah,
·               Lam’usy Syihab fi Syarah Muhammad ibnu Abdul Wahhab wa mazhabih,
·               Tafsir Al Fatihah,
·               Tafsir Asy Syahadah wa Ma’rifatullah,
·                At taudlih ‘An Tauhidil Akhlaq.



Pemikiran Muhammad ibn Abdul Wahab
Menurut Muhammad ibn Abdul Wahab, tauhid dibagi menjadi dua. Pertama, Tauhid Uluhiyah, yaitu kepercayaan untuk menetapkan bahwa sifat keTuhanan itu hanya milik Allah saja. Kedua, Tauhid Rububiyah, yaitu kepercayaan bahwa pencipta alam ini adalah Allah.

Pemikiran Ibn Abdul Wahab: Pertama, penyembahan terhadap Allah adalah tauhid. Kedua, tentang kekhawatiran pada syirik. Ketiga, bernadzar atau bersumpah untuk selain Allah. Keempat, mencari perlindungan kepada selain Allah merupakan bagian dari syirik. Kelima, mencari pertolongan kepada selain Allah. Keenam, masalah syafaat adalah hak Allah. Ketujuh, kutukan bagi orang yang menyembah Allah di kuburan orang shaleh. Kedelapan, jangan lah manusia membuat sekutu-sekutu bagi Allah.

Ibn Abdul Wahab menganut ajaran Imam Ahmad ibn Hanbal dan Ibnu Taimiyah. Menurutnya Tauhid sangat diperlukan (monotheis) untuk pemberatasan penyakit-penyakit seperti syirik, bid’ah, tahayul, dan khurafat (dongeng).

Menurutnya tidak ada pekerjaan yang bernilai baik jika tidak dilandasi dengan tauhid kepada Allah. Tauhid di sini ada tiga aspek, yaitu tauhid rububiyah, asma wa al-shifat, tauhid uluhiyah (ibadah).

Bid’ah yang harus dhilangkan menurut Ibn Abdul Wahab antara lain: pertama, berkumpul bersama dalam maulidan. Kedua, wanita menggiring janazah. Ketiga, kebiasaan sehari-hari yang dikategorikan bid’ah.

Pokok-pokok dimensi fikihnya antara lain: pertama, pengakuan dua otoritas dalam hukum Islam al-Qur’an dan Sunnah bersama preseden sahabat dengan menolak qiyas. Kedua, menolak taqlid, menolak ijma’ dan mengembangkan ijtihad.

Pokok-pokok pikiran tauhid Ibnu Abdul Wahhab dapat dibagi menjadi delapan hal. Pertama, yang boleh dan harus disembah hanyalah Allah. Menyembah selain itu adalah musyrik dan boleh dibunuh. Kedua, paham tauhid hanya sebagai topeng, orang Islam banyak mencari pertolongan bukan dari Allah, tapi dari Syaikh, Wali, Nabi dan ini syirik. Ketiga, menyebut Nabi, Malaikat, Syaikh sebagai pengantar doa adalah syirik. Keempat, meminta syafaat selain Allah adahah syirik. Kelima, bernazar selain kepada Allah adalah syirik. Keenam, memperoleh pengetahuan selain dari Al Qur’an dan Al Hadist adalah kekufuran. Ketujuh, tidak percaya pada qada dan qadar adalah kekufuran. Kedelapan, penafsiran Al Qur’an dengan takwil (interpretasi bebas) adalah kufur.


Pokok pikiran lain Muhammad Ibnu Abdul Wahhab meliputi. Pertama, mengajak orang Islam untuk bertauhid (monoteisme Islam). Kedua, memberi bimbingan Al Qur’an dan Sunah pada umat. Ketiga, menentang penindasan terhadap orang miskin, janda, anak-anak yatim, kerusakan moral dan paham keberhalaan. Keempat, memerangi penguasa-penguasa kekaisaran Turki Usmani, karena tidak adil, bermegah-megahan, tidak memperdulikan rakyat dan menganggap orang Turki lebih pantas memimpin umat Islam daripada bangsa Arab.

You Might Also Like

0 comments