Fatima Mernissi: Pemikiran Feminisme Tentang Hijab, Kepemimpinan, dan Nushuz

14:01 Add Comment
Feminisme Fatima Mernissi
Fatima Mernissi

Oleh: Jajang Jaeni[1], Muhammad Hanif[2], Nida Ikrimah[3]
Pendahuluan
Pada pembahasan kali ini akan menguak pemikiran Fatima Mernissi yang mana bentuk pemikiran dia tidah jauh bebeda dengan femisin lain dia berusaha menyadarkan pembatasan antara perempuan karena sex (jenis kelamin) membangn relasi gender yang adil antara laiki  laki dan perempuan juga melibatkan perempuan dalam berbagai bidang. Pelacakan Mernissi terhadap nash-nash suci baik al-Qur’ān dan Hadis didasari  pada pengalaman individunya  sehari-hari ketika berhubungan  dengan  masyarakat. Seperti misalnya hadis-hadis yang ia sebut misoginis yang menyatakan posisi perempuan sama dengan  anjing dan  keledai sehingga membatalkan  salat sesorang,  dikarenakan  rasa ingin  tahu  yang mendalam terhadap posisi Hadis  tersebut. Pengalaman itu ia dapatkan waktu remaja di sekolah.
Dalam karyanya yang diterjemahkan dalam bahasa indonesia “ratu ratu islam yang trerlupakan”membahas tentang Hadis kepemimpinan perempuan yang membuatnya,  dalam  bahasa  Mernissi  sendiri,   "hancur" perasaannya setelah mendengarnya. Dorongan  untuk  melacak hadis itu  secara  serius  karena Hadis itu terlontar dari pedagang yang ia tanya di  pasar, apakah  boleh  perempuan menjadi pemimpin.  Sang  pedagang begitu kaget dengan pertanyaan Mernissi sampai menjatuhkan dagangan yang dibawanya secara tak sadar. Lalu sang  pedagang  mengutip Hadis: "Tidak akan selamat suatu kaum  yang dipimpin oleh perempuan". Menurut  Mernissi, peristiwa semacam  itu  menunjukkan Hadis ini sudah sangat merasuk umat Islam. Sehingga ketika perempuan menjadi pemimpin menjadi ramai  diperdebatkan. Seperti kasus Benazir Butho yang waktu itu menjadi Perdana Menteri di Pakistan. Padahal al-Qur’ān sudah  mengungkapkan dengan jelas contoh Ratu Bilqis sebagai pemimpin  berjenis kelamin perempuan.[4]
Dalam  kebanyakan  karya-karyanya,  Mernissi mencoba menggambarkan bahwa ajaran agama bisa dengan mudah dimanipulasi. Karenanya Mernissi pun percaya, penindasan  terhadap perempuan adalah semacam tradisi yang dibuat-buat, dan bukan  dari ajaran agama Islam. Makanya ia  sangat  berani dan  tidak takut membongkar tradisi yang  dianggap  sakral oleh masyarakat selama ini. Banyak tulisan-tulisan lepasnya tentang perempuan yang menyuarakan hal di atas. Misalnya bisa kita lihat dalam bukunya Rebellion's Women And Islamic Memory, (London & New Jersey:  Zed Books, 1996)[5]

PENDEKATAN MODERN AL-QUR’AN MAURICE BUCAILLE

22:06 Add Comment

Maurice Bucaille
Makalah oleh: Serpin[1], Muhibbatul fikri[2], Muhammad Saipul Asy’ari.[3]

A.                 Pendahuluan
Perbincangan tentang asal-usul manusia, langit dan bumi sejak zaman dahulu senantiasa menarik. Begitu banyak hal belum diketahui manusia tentang asal-usul dirinya sendiri, dan lingkungannya, mungkin hingga akhir zaman akan tetap menjadi misteri. Misteri, karena apa yang telah terjadi pada masa lampau saat manusia, langit dan bumi  pertama diciptakan tidak ada seorang manusia pun yang tau, kecuali sang pencipta. Kita mengetahui hal tersebut sejauh yang diceritakan Tuhan dalam kitab-kitab suci, terutama Injil dan Al-qur’an.[4]

Dalam kedua kitab suci tersebut, tuhan menceritakan bagaimana manusia pertama diciptakan. Memahami atau menafsirkan al-Qur’an berdasarkan penemuan sains sesungguhnya problem yang sangat berbahaya,  karena dua hal ini berbeda dalam prinsipnya. Di satu sisi al-Qur’an merupakan kebenaran absolut dan abadi, akan tetapi di sisi lain sains pada prinsipnya adalah kebenaran relatif dan temporal yang mungkin bisa berubah bersamaan dengan perubahan waktu. [5] Jadi seandainya terjadi perubahan dalam penemuan sains sekalipun, hal ini harus dipahami bahwa al-Quran tidaklah keliru, yang keliru adalah pemahaman kaum muslimin.
Berdasarkan permasalahan diatas, pemakalah ingin membahas pemikiran salah satu Tokoh Orientalis yang mencurahkan kemampuannya untuk menafsirkan al-Qur’an melalui pendekatan pengetahuan Modern (Sains). Makalah ini ingin mengetahui bagaimana Maurice Bucaille melihat ayat-ayat al-qur’an yang berkaitan dengan penciptaan manusia, siklus air dan bumi melalui pendekatan sains nya ?

Sejarah Pengumpulan al-Qur'an dan Pemeliharaannya

19:03 Add Comment
PENGUMPULAN AL-QUR'AN DAN PEMELIHARAANNYA
Oleh: Muhammad Fahtlur Rahman, Muhammad Hanif, dan Raja Usman Effendi HSB
Latar belakang
         Pada saat sekarang ini mulai banyak morang yang mempertanyakan tentang apakah Al-qur'an yang ada saat sekarang ini adalah Wahyu yang diturunkan oleh Allah kedapa Nabi Muhammad SAW. Masalah seperti ini mulai muncul dikarenakan banyaknya pertentangan akan penafsiran Al-qur'an. Untuk itu kami sebagai pemakalah akan memaparkan beberapa hal yang akan menjelaskan apakah Al-quran yang ada saat sekarang ini adalah yang asli atau bukan dan untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen Sejarah Al-qur'an.

Pembatasan dan perumusan masalah
         Di dalam pembatasan dan perumusan masalah ini ada beberapa hal yang akan dikemukakan yaitu:
1.            Apa yang dimaksud dengan Al-qur'an?
2.            Apa penyebab dikumpulkannya Al-quran?
3.            Bagaimana cara pengumpulan Al-qur'an yang dilakukan?
4.            Apa yang dilakukan untuk memelihara Al-qur'an?

PENGUMPULAN AL-QUR'AN DAN PEMELIHARAANNYA
Definisi Al-qur'an dan sejarah pengumpulan Al-qur'an dan pemeliharaannya

Defenisi Al-qur'an
          Al-qur'an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril yang diturunkan secara berangsur-angsur selama dua puluh tiga tahun di Mekkah dan Madinah. Para ulama menyepakai bahwa ayat yang pertama turun adalah surah Al-'alaq ayat 1-5 yang diturunkan pada saat Nabi sedang bertahanus di gua hira'.

Pengumpulan Al qur'an dan pemeliharannya
          Ketika Rasulullah SAW wafat, Al qur'an telah ditulis seluruhnya di pelepah korma,  tulang-tulang batu tipis, permukan batu besar, papan-papan, kulit binatang, pelana dan juga dihafal oleh kaum muslimin.
          Al qur'an dikumpulkan disebabkan  kekhawatiran Umar kalau-kalau maut menyambar nyawa orang yang hafiz Al qur'an sebagaimana terjadi pada perang Yamamah[1].  Pengumpulan Al qur'an didasarkan pada ketakutan Umar dan umat islam yang lain akan banyaknya penghafal Al qur'an yang mati di medan perang dan kekhawatiran akan hilangnya tulisan-tulisan ayat Al qur'an yang tercerai-berai yang bisa hancur di makan zaman yang contohnya dalah kulit binatang itu tidak mampu menjaga Al qur'an sebab barang itu mudah berserakan dan hilang.
          Karena kekhawatiran itu Umar menghadap kepada Abu Bakar yang pada saat itu menjabat sebagai khalifah dan berdiskusi tentang itu, setelah umar menjelaskan latar belakangnya, Abu bakar mengirim sebuah surat kepapa zaid bin tsabit seorang penulis wahyu.
          Abu bakar berkata kepada zaid, “ engkau adalah seorang pewmuda yang pandai, bukan sembarangan, engkau menulis wahyu Rasulullah maka sekarang Al qur'an itu hendaklah engkau kumpulkan”[2]. Zaid bertanya kepada Abu bakar dan umar, “ kenapa kalian berpendapat melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad?” Abu bakar dan umar bersikeras mengatakan bahwa hal itu boleh-boleh saja dan malahan akan membawa kebaikan. Mereka tidak henti-hentinya menenangkan rasa keberatan yang ada pada diri kami hingga akhirnya Allah menenangkan kami melakukan tugas itu, seperti Allah menenangkan hati Abu Bakar dan Umar[3]. Dikarenakan perkataan Abu bakar, zaid teregerak hatinya untuk menghumpulkan ayat-ayat  Al qur'an yang tersebar dan mulai menulisnya kembali.
          Dikarenakan zaid adalah orang ynag hafal Al qur'an maka apa yangdiperintahkan kepadanya bisa dijalankan dengan mudah. Ayat-ayat yang diambil zaid adalah ayat yang sama didengarnya antar sahabat bukan ayat yang berbeda antara satu dengan yang lain kecuali ayat tersebut disaksikan oleh orang yang terpercaya sehingga sampai kepada sahabat yang diminta menyebutkan ayat tersebut.
          Perang Yamamah yang menjadikan tergeraknya hati umar untuk mengumpulkan Al-qur'an dan menjadi penggerak hati utsman untuk melanjutkan perjuangan Abu bakar dan Umar setelah mereka meniunggal. Ditambah lagi dengan berita dari Huzaifah Al Yamani yang baru kembali dari perang Armenia dan Azebaijan yang mengatakan bahwa dia khawatir terhadap apa yang ditemuinya pada saat perang yaitu perbedaan cara membaca Al-qur'an oleh umat Islam. Katanya kepada khalifa,” bagaiman pendapat tuan dari hal umat Islam berbeda-beda membaca Al-qur'an?”[4].
          Utsman memerintahkan Huzaifah seperti Abu bakar memerintahkan zaid. Adanya perbedaan dalam bacaan Al-qur'an sebenarnya bukan barang baru sebab Umar sudah mengantisipasi bahaya perbedaan ini sejak pemerintahannya[5]. Langkah awal Utsman adalah memerintahkan orang untuk mengumpulkan mushaf Al-qur'an yang telah ditulis kepada hasfah binti umar kemudian hasfah menyerahkanya kepada Utsman, pada saat proses pengumpulan Al-qur'an, Utsman pernah berpidato di hadapan halayak ramai bahwa jika masih ada Al-qur'an yang belum lengkap, hendaklah dicari dan memberikannya kepada Utsman.
          Huzaifah Al Yamani mengingatkan khalifah pada tahun 25 H dan pada tahun itu juga Utsman menyelesaikan masalah perbedaan yang ada sampai tuntas. Beliau mengumpulkan umat Islam dan menerangkan masalah perbedaan dalam bacaan Al-qur'an sekaligus meminta pendapat mereka tentang bacaan dalam beberapa dialek, walaupun beliau sadar bahwa beberapa orang akan menganggap bahwa dialek tertentu lebih unggul sesuai dengan afiliasi kesukuan[6]. Jika Utsman ragu-ragu akan apa yang diselidkinya Utsman merasa gelisah, dia bertanya kepada orang ramai, katanya kepada orang ramai “ aku pernah mendengar Rasulullah mendiktekan hal ini kepada tuan, kata Zaid “ya”, “siapa oarang yang akan menuliskannya?” kata orang yang hadir “ yang menjadi juru tulis Rasulullah adalah Zaid bin tsabit” kata Utsman “siapa orang Arab” kata orang banyak “Sa'id bin Ash, lahjah (langgam suaranya sa'id ini serupa benar dengan lahjah Rasulullah” kata utsman “ cobalah Sa'id menditekan, supaya ditulis oleh Zaid”[7].
          Contoh kehati-hatian Utsman tersebut ditambah lagi dengan diperintahkannya bahwa jika ada mushaf yang berbeda dengan mushaf yang telah ditulis di masa Abu bakar dan Umar untuk dimusnahkan. Mengenai pembakaran mushaf yang dilakukan Utsman, Abu bakar As Sijistaniy meriwayatkan dengan sanad yang muttasil bahwa 'Aliy berkata “jika Utsman tidak melakukannya, niscaya saya yang melakukannya”. 'Aliy adalah pemilik mushaf yang menghilang dari peredaran karena munculnya mushaf Utsman, tetapi hal itu tidak menjadi perintang baginya untuk menegakkan kebenaran, untuk itulah ia berusaha keras selama hidupnya dengan menerima kenyataan tersebut begitu juga Ibn mas'ud dan para sahabat yang lainnya yang mempunyai mushaf tersendiri.
          Abu bakar As Sijistaniy meriwayatkan dengan sanad yang muttasil bahwa mush'ab bin sa'ad berkata sebagai berikut: saya melihat orang-orang berkumpul ketika utsman membakar sejumlah mas-haf, mereka sangat heran tetapi tidak ada satu pun yang  memprotesnya[8]. Disini terlihat bahwa apa yang dilakukan oleh utsman adalah suatu yang mulia dengan menyatukan umat islam kepada satu mushaf, dan sebagai hasil dari kerja keras dan kesabarannya dalam mengumpulklan Al-qur'an.
          Berdasarkan pada periwayatan pertama utsman memutuskan berupaya untuk sungguh-sungguh untuk melacak suhuf dari hasfah, mempercepat menyusun penulisan dan memperbanyak naskah. Al-bara' meriwayatkan bahwa “kemudian Utsman mengirimkan surat kepada hasfah yang menyatakan tentang permintaannya untuk dikirimkan suhuf agar dapat membuat naskah yang sempurna dan kemudian suhuf itu dikembalikan lagi kepada hasfah, kemudian Utsman berbicara kepada orang Arab jika mereka tidak setuju dengan apa yangh ditilis oleh Zaid mengenai Al-qur'an maka hendaklah mereka menulisnya dengan bahasa quraish sebagai mana Al-qur'an diturunkan dalam logat mereka.
           Selain mengambil suhuf dari hasfah, utsman juga mengambil suhuf dari 'Aisyah sebagai pembanding, umar bin shabba meriwayatkan melalui sawwar bin shabib melaporka: saya masuk ke kelompok kecil untuk bertemu dengan ibn az-Zubair, lalu saya menanyakan kepada Utsman memusnahkan semua naskah kuno Al-qur'an.....dia menjawab, “pada zaman pemerintahan Umar ada pembual bicara yang telah mendekati khalifah memberitahukan kepadanya bahwa orang-orang telah berbeda dalam membaca Al-qur'an. Umar menyelesaikan masalah ini dengan mengumpulkan semua naskah Al-qur'an dan menyamakan bacaan mereka, tetapi menderita yang sangat fatal akibat tikaman maut sebelum beliau dapat melakukan upaya lebih lanjut. Pada zaman pemerintahan utsman orang yang sama datang untuk mengingatkannya masalah yang sama dimana utsman memerintahkan untuk membuat mushaf tersendiri. Lalau dia mengutus saya menemui bekas istri Nabi Muhammad 'Aisyah, agar mengambil kertas suhuf yang Nabi Muahmmad sendiri telah menditekan keseluruhan Al-qur'an. Mushaf yang dikumpulkan secara independent kemudian dibandingkan dengan suhuf ini, dan setelah melakukan koreksi terhadap kesalahan-kesalahan yang ada, kemudian ia menyuruh agar semua salinan naskah Al-qur'an dimusnahkan[9].
          Dari riwayat tersebut kita tahu bahwa utsman menyiapkan mushaf yang ditulis tersebut berdasarkan secara keseluruhannya yang sumber-sumber utamanya termasuk tulisan-tulisan sahabat yang ditambahkan dengan suhuf yang ada pada 'Aisyah untuk kesempurnaan mushaf yang ditulis tersebut.
          Naskah Al-qur'an yang pada waktu itu dibuat telah dibandingkan dengan suhuf resmi yang sejak semula ada pada hasfah, seseorang bisa menjadi heran dengan apa ynag dilakukan oleh utsman karena untuk apa membuat mushaf sendiri yang akkhhirnya dibandingkan juga dengan yang sudah dikumpulkan pada masa Abu bakar dan umar, karena sejak awal Al-qur'an sudah benar-benar kukuh dan tidak rapuh karena metodologi yang dipakai sangat tepat dan akurat.

PENUTUP
Kesimpulan
  • Al-qur'an adalah kalam Allah yang diturunkan ke[ada Nabi Muhammad SAW melalui perantara malaikat Jibril, yang diturunkan secara berangsur-angsur di tempat yang berbeda-beda, ada yang diturunkan di Mekkah dan ada juga yang di turunkan di Medinah
  • Pengumpulan Al-qur'an didasarkan pada kekhawatiran umat islam pada masa Abu Bakar menjadi khalifah dikarenakan banyaknya umat islam yang hafal Al-qur'an mati di medan perang yaitu perang Yamamah.
  • Pengumpulan Al-qur'an pada masa Utsman bin Affan dikarenakan banyaknya perbedaan bacaan antar umat islam dalam membaca Al-qur'an yang ditemui oleh huzaifah al yamaniy pada saat perang di Armenia dan Azebaijan.
  • Pengumpulan Al-qur'an pada masa Abu Bakar adalah dengan cara mengumpulkan semua tulisan Al-qur'an yang bercerai-berai seperti pada kulit binatang, tulang-tulang, batu dan pada apa yang bisa ditulis pada masa Nabi masih hidup. Sedangkan pada masa Utsman, pengumpulan Al-qur'an dilakukan dengan cara mengulang kembali pengumpulan yang dilakukan pada masa Abu Bakar dan ditambahkan lagi dengan membandingkan dengan yang telah ditulis sebelumnya.
  • Dalam pemeliharaan Al-qur'an sahabt mengumpulkannya menjadi satu mushaf dan memperbanyak-nya supaya tidak ada lagi perbedaan dalam membaca Al-qur'an.

DAFTAR PUSTAKA
Al-Abyadi, Ibrahim. Sejarah Al-qur'an. Jakarta.
Al Ibyariy, Ibrahim. Pengenalan sejarah Al-qur'an. Jakarta.
Azzami, MM. The history the quranic text. Jakarta.



[1]   Ibrahim Al Abyadi, sejarah Al qur'an 56
[2]   Ibrahim Al Abyadi, sejarah Al qur'an 56
[3]   Al-bukhari, sahih jami' Al-qur'an, hadits no 4986; lihat juga ibn Abi Dawud, al-masahif, hlm 6-9
[4]   Ibrahim Al Abyadi, sejarah Al qur'an 57
[5]   MM Azzami, the history the quranic text 97
[6]   MM Azzami, the history the quranic text 98
[7]   Ibrahim Al Abyadi, sejarah Al qur'an 59
[8]   Ibrahim Al Ibyariy, sejarah Al qur'an 80
[9]   MM Azzami, the history the quranic text 102

Pengertian Wahyu dan Pembagiannya

15:13 Add Comment


Pengertian Wahyu
Secara kebahasaan, wahyu memiliki banyak arti yang berbeda-beda. Diantaranya adalah: isyarat, tulisan, risalah, pesan, perkataan yang terselubung, pemberitahuan secara rahasia, bergegas, setiap perkataan atau tulisan atau pesan atau isyarat yang disampaikan kepada orang lain.[1]
Adapun pengertian wahyu dalam arti bahasa[2] meliputi:
1.      Ilham sebagai bahan bawaan dasar manusia, seperti wahyu terhadap ibu Nabi Musa :
وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلَا تَخَافِي وَلَا تَحْزَنِي إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ
Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; "Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul.(QS. Al Qasas:7)

2. MUDZAKKAR (Laki-laki) - MUANNATS (Perempuan)

10:21 Add Comment
Mudzakkar Mu'annats
Mudzakkar Mu'annats


Nah, setelah mengetahui pembagian kata dalam bahasa Arab, selanjutnya kita akan membedakan yang mana Mudzakar, dan yang mana Mu'annats.

Dalam tata bahasa Arab, dikenal adanya penggolongan Isim ke dalam Mudzakkar (laki-laki) atau Muannats (perempuan). Penggolongan ini ada yang memang sesuai dengan jenis kelaminnya (untuk manusia dan hewan) dan ada pula yang merupakan penggolongan secara bahasa saja (untuk benda dan lain-lain).

Contoh Isim Mudzakkar
Contoh Isim Muannats
عِيْسَى
(= 'Isa)
مَرْيَم
(= Maryam)
اِبْنٌ
(= putera)
بِنْتٌ
(= puteri)
بَقَرٌ
(= sapijantan)
بَقَرَةٌ
(= sapibetina)
بَحْرٌ
(= laut)
رِيْحٌ
(= angin)
Dari segi bentuknya, Isim Muannats biasanya ditandai dengan adanya tiga jenis huruf di belakangnya yaitu:
a) Ta Marbuthah ( ة ). Misalnya: فَاطِمَة (=Fathimah), مَدْرَسَة (=sekolah)
b) Alif Maqshurah (
ى ). Misalnya: سَلْمَى (=Salma), حَلْوَى (=manisan)
c) Alif Mamdudah (
اء ). Misalnya: أَسْمَاء (=Asma'),  سَمْرَاء (=pirang)
Namun adapula Isim Muannats yang tidak menggunakan tanda-tanda di atas.
Misalnya:
رِيْحٌ(= angin), نَفْسٌ(= jiwa, diri), شَمْسٌ(= matahari)
Bahkan ada pula beberapa Isim Mudzakkar yang menggunakan Ta Marbuthah.
Contoh:
حَمْزَة(= Hamzah), طَلْحَة(= Thalhah), مُعَاوِيَة(= Muawiyah) [Nama Orang Laki-Laki] - COPAS

***
CMIIW

Pelajaran: 1. Pembagian Kata


1. PEMBAGIAN KATA

09:49 Add Comment
Isim Fi'il
Mengenal Kata dalam Bahasa Arab


ilmu-ushuluddin.blogspot.co.id
Belajar bahasa arab, belajar bahasa arab mudah, belajar isim dan fi'il, belajar agama, apa itu isim, apa itu fi'il, tanda-tanda isim, tanda-tanda fi'il.

1.             Indonesia à Huruf: A, B, C, D, d…………… Z
Arab à حروف : ا, ب, ت, ث,,,,,ي
2.             Kata: Saya, makan, roti
كلمة: أنا, أكل, الخبز
3.             Kalimat: Saya makan roti
 أنا أكل الخبز :كلام



***
Dalam bahasa Arab, terdapat tiga pembagian kalimat yaitu:
1.      Isim, kata benda.” Contoh: مسجد (mesjid) – kata sifat juga nanti bisa masuk isim.
2.      Fi’il, kata “kerja.” Contoh: أصلى (saya shalat)
3.      ḥarf, kata “tugas.” Contoh: في (di, di dalam)

***
Semua bahasa Arab di dunia ini (kata bahasa Arab), hanya ada 3 kemungkinan. Isim, Fi’il, Harf/ Huruf. Nah sekarang bagaimana cara mengetahui Isim, Fi’il, dan Huruf???

Cara mengetahuinya hanya 2 cara: 1). Dengan mengetahui artinya, 2). Dengan mengetahui ciri2nya.

### Tanda-tanda اسم
·         dimasuki tanwin
·         dimasuki alif lam di depan
·         dimasuki huruf jar di depan (من, إلى, عن, على, في, رب, ب, ك, ل)
·         dimasuki huruf qasam (huruf sumpah, و, ب, ت )
·         dimasuki iḍafah

### Tanda-tanda فعل
·         terletak setelah قد à قد تيبين الرشد من الغي [al-Baqarah/2: 256]
·         terletak setelah huruf س (sin) à
·         terletak setelah سوف à كلا سوف تعلمون [al-Takaṣur: 3]
·         bersambung dengan تاء التأنيث  (ta’ marbutoh perempuan) à قالت
·         diawali huruf ا, ت, ن, ي kemungkinan besar adalah fi’il (Huruf muḍari‘)
أذهب, تذهب, نذهب, يذهب (saya pergi, kamu pergi, kami pergi, dia pergi)




***
CMIIW

ilmu-ushuluddin.blogspot.co.id



Dari Syukur ke Syakur

09:57 Add Comment
Syukur Bersyukur
Prof Dr KH Nasaruddin Umar


Oleh Prof Dr KH Nasaruddin Umar
(Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta) 


REPUBLIKA.CO.ID, Sayyidatina 'Aisyah mempertanyakan ibadah-ibadah Nabi sedemikian aktif, baik pada siang hari, terlebih saat malam hari, mengapa engkau melakukan yang sedemikian itu? Bukankah engkau adalah Nabi dan Rasul pilihan Allah yang dijamin surga? Nabi menjawab dengan jawaban pendek, tetapi padat arti: Afalam akuna 'abdan syakuran? (Tidakkah aku sebagai hamba yang bersyukur?) Redaksi yang digunakan Nabi ialah syakuur, bukan syukuur. 

Kata syukuur dan syakuur sama-sama berasal dari akar kata syakara-yasykuru yang berarti bersyukur. Syukuur ialah mensyukuri segala nikmat yang Tuhan berikan kepada kita, seperti kesehatan, rezki, jabatan, keturunan, dan keluarga yang sakinah. Sedangkan, syakuur ialah mensykuri segala sesuatu yang datang dari Tuhan, termasuk musibah, penderitaan, dan kekecewaan.

Bersyukur terhadap berbagai nikmat Tuhan (syukuur) adalah sesuatu yang biasa. Akan tetapi, mensyukuri penderitaan, musibah, dan kekecewaan (syakuur) itu luar biasa. Syukuur banyak dilakukan orang, tetapi syakuur amat langka sebagaimana dikatakan dalam ayat: Wa qalil min 'ibadiy al-syakuur (Hanya sedikit sekali di antara hambaku yang mampu  mencapai tingkat syakur/QS Saba' [34]: 13). 

Bersyukur dalam arti syukr banyak dipahami secara keliru. Banyak orang yang menyangka bersyukur ialah mengucapkan tahmid (alhamdulillah), tetapi sesungguhnya itu bukan syukur melainkan hanya tahmid, memuji-muji Tuhan.

Bersyukur ialah memberikan sebagian nikmat Tuhan kepada hamba-Nya yang membutuhkannya. Misalnya, gaji kita dinaikkan atau kita memperoleh keuntungan usaha dagang maka cara mensyukurinya kita harus mengeluarkan zakat, infak, dan sedekah kepada orang-orang yang layak menerimanya atau sebagaimana ditunjuk oleh Syara'.

Bersyukur dalam arti syakuur berarti bersabar menerima cobaan Tuhan dan tidak pernah salah paham terhadap Tuhan. Misalnya, seseorang diuji dengan penyakit kronis, seperti diabet atau gagal ginjal yang mengharuskan cuci darah berkali-kali seminggu, tidak perlu mengutuk diri sendiri atau menyalahkan orang lain, bahkan menyalahkan Tuhan, melainkan harus sabar sambil menjalani pengobatan secara intensif.

Tidak boleh pasrah sebelum berusaha secara maksimum sebatas kemampuan kita. Kalau sudah dilakukan berbagai upaya, tapi penyakit itu masih mendera kita maka bersahabatlah dengan penyakit itu.

Bersahabat dengan penyakit menurut para ahli anastesia (ahli rasa nyeri) dapat menurunkan rasa sakit itu sendiri. Yakinkan pada dirinya bahwa penyakit ini pasti bentuk lain dari rasa cinta Tuhan terhadap diri kita. 

Sumber: http://khazanah.republika.co.id/

Blogger templates