Sejarah Pengumpulan Teks Al-Qur’ān Bersama Arthur Jeffery

14:40 Add Comment
Sejarah Pengumpulan Teks Al-Qur’ān Bersama Arthur Jeffery
Arthur Jeffery


Pendahuluan
Al-Qur’ān adalah sebuah fenomena menarik sepanjang sejarah agama. Dia bukan hanya menjadi objek perhatian manusia yang percaya padanya, tetapi juga mereka yang tertarik untuk menelitinya sebagai salah satu karya sejarah. Al-Qur’ān berperan sangat besar dalam membebaskan manusia dari sejarah yang kelabu. Al-Qur’ān mampu mengantarkan manusia kepada alam yang dipenuhi dengan ilmu pengetahuan. Al-Qur’ān sebelum dikodifikasi memiliki perjalanan sejarah yang panjang. Banyak mushaf-mushaf beredar dan menjadi mushaf berpengaruh di berbagai kota.
          Arthur Jeffery seorang orientalis yang berasal dari Australia tertarik untuk meneliti al-Qur’ān dengan menggunakan metode kritik teks sejarah terhadap al-Qur’ān. Dia mengeksplor semua teks-teks yang ada. Dia menggunakan pendekatan filologis untuk melakukan penelitiannya. Impiannya adalah membuat al-Qur’ān edisi kritis.
          Mushaf-mushaf al-Qur’ān pra-‘Uthmāni dikumpulkan dan kemudian diteliti. Dia membagi mushaf-mushat pra-‘Uthmāni ke dalam dua kategori besar, yaitu mushaf primer dan mushaf sekunder. Dari banyaknya mushaf yang ada, terdapat empat mushaf yang menurutnya berpengaruh di kalangan masyarakat. Mushaf-mushaf tersebut adalah mushaf Ibn Mas‘ud, mushaf Ubay bin Ka‘b, mushaf Abu Musa al-Ash‘ari, mushaf Miqdad bin al-Aswad.

Biografi Singkat Arthur Jeffery
Arthur Jeffery (18??-1952). Dia seorang Profesor Bahasa Semitic di Universitas Colombia dan pada persatuan seminar teologi. Dia adalah salah seorang sarjana hebat dalam kajian keIslaman.
          Dia banyak menulis artikel serta jurnal-jurnal. Jeffery menulis dua karya hebat. Pertama pada tahun 1937 dengan judul Materials for the History of the Text of the Qur’ān: The Old Codices. Dan yang kedua pada tahun 1938 dengan judul The Foreign Vocabulary of the Qur’ān.
          Ada sekitar 275 kata dalam al-Qur’ān dianggap asing. Jeffery melakukan survey untuk memeriksa teks di Ethiopia, Aramaik, Ibrani, Syria, Yunani, Latin, Persia tengah, dan dalam bahasa yang lain. Penelitiannya membawanya untuk mencari naskah di Timur Tengah, termasuk Kairo. Karya-karyanya yang lain termasuk The Qur’ān as Scripture (1952).

Asumsi Dasar
Al-Qur’ān adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muḥammad melalui perantara malaikat Jibrīl. Periwayatan al-Qur’ān sendiri terjadi secara mutawatir, dengan maksud banyak orang yang meriwayatkan dengan tanpa niat untuk berdusta.
          Masa kalifah Abu Bakr Ṣiddiq, ‘Umar bin Khaṭab menyarankan kepada Abu Bakr untuk mengumpulkan keseluruhan teks al-Qur’ān. Hal ini terjadi karena kekhawatiran kalifah ‘Umar bin Khaṭab akan al-Qur’ān itu sendiri. Para syuhada penghafal al-Qur’ān yang banyak wafat dijalan Allah menjadi salah satu alasan kenapa pengumpulan keseluruhan teks al-Qur’ān diperlukan.
          Pengumpulan keseluruhan teks al-Qur’ān akhirnya terlaksana pada masa kalifah ‘Uthmān bin Affān. Sebelum al-Qur’ān dikodifikasi, yaitu dengan menjadikan Mushaf ‘Uthmāni sebagai mushaf standar, banyak mushaf-mushaf yang belum resmi beredar. Mushaf-mushaf tersebut terkenal di setiap kotanya. Jeffery membedakan mushaf-mushaf yang beredar pada Mushaf Primer dan Mushaf Sekunder.
          Yang dijadikan objek kajian oleh Jeffery adalah Mushaf Primer. Yang terfokus pada tiga mushaf yang berpengaruh, yaitu Mushaf Ibn Mas‘ud, Mushaf Ubay bin Ka‘b, dan Mushaf ‘Ali.

Materials for the History of the Text of the Koran
Uraian-uraian tentang al-Qur’ān dari Zamakhshari (w. 538), Abū Hayyan (w. 745), al-Shawkanī (w. 1250) yang menggunakan beberapa sumber tua yang bagus untuk sarjana Barat. Kita temukan rekaman bagus nomor dari variasi tua yang dihadirkan berbeda dari bentuk konsonan teks dari yang kita kenal dengan ‘Uthmanic text (mushaf ‘Uthmani).
          Al-Ukbari seorang ahli bahasa dari Baghdad (w. 616), Ibn Khalawaih (w. 370), dan yang terkenal Ibn Jinni (w. 392), tidak banyak jumlah material yang seperti itu dijaga. Dalam beberapa kasus, pembuktian untuk menjadi sumber pertama dari yang datang untuk penafsir.
          Untuk menggunakan material-material sebagai kritik investigasi terhadap al-Qur’ān sepertinya tidak pernah mendapatkan perhatian dari penulis Muslim. Di dalam al-Itqan, as-Suyuti memiliki ringkasan yang bagus dari ilmuwan al-Qur’ān Muslim. Dia memiliki rekaman mengenai bahan-bahan dari Muslim Masora. Bahan-bahan yang menarik untuk sejarah dari penjelasan al-Qur’ān, tapi sangat sedikit untuk menunjang investigasi teks tersebut.
          Hal ini banyak menarik perhatian sarjana Barat. Diawali oleh Nöldeke pada tahun 1860 dengan edisi pertama dari Geshichte des Qorans miliknya dan tungen.[1] Kemudian dilanjutkan oleh Bergsträsser dan Flugel.
          Ketika Rasūllāh saw wafat, teks al-Qur’ān telah diperbaiki. Semua materi yang diperoleh disimpul (dijilid) sebelum ditulis kembali. Terjadi perbedaan dalam membaca al-Qur’ān. Sampai-sampai menimbulkan perselisihan. Yang dibaca oleh penduduk Hom dan Damaskus adalah kode dari Miqdad bin al-Aswad. Orang-orang Kufah membaca kode dari Ibn Mas‘ud. Orang-orang Bashrah membaca kode Abu Musa al-Ash‘ari. Dan orang-orang Syria umumnya membaca kode dari Ubai’ bin Ka‘b.
          Terjadi banyak perbedaan antara kode dari kota-besar seperti Mekah, Madina, Basrah, Kufah, dan Damaskus. Maka untuk itu dibutuhkanlah kode standar yang dapat diterima oleh semua kota. Solusi dari kalifah Uthmān adalah menjadikan kode Madina sebagai kode standar dan kode-kode yang lain dihancurkan.
          Di bawah kalifah Uthmān, ditemukan semua jenis sifat dialek dan pembacaan. Kemudian kalifah Uthmān membentuk suatu komite dan meminjam mushaf yang ada pada Hafsa. Mushaf yang dikumpulkan oleh kalifah Abū Bakr. Mushaf itu dijadikan basis standar untuk penyeragaman teks al-Qur’ān dan ditulis dengan dialek qurais. Al-Qur’ān yang telah diseragamkan dikirim ke negara-negara Islam dan menjadi sebagai kode metropolitan. Sedangkan kode-kode yang lain dibakar. Uthmān berkata kepada ketiga orang qurais yang ditugasi menulis al-Qur’ān: jika kalian dan Zaid bin Thabit berselisih dalam suatu ayat dari al-Qur’ān, maka tulislah dengan lisan orang-orang qurais, karena al-Qur’ān diturunkan atas lisan mereka.[2]
Ada sedikit keraguan bahwa teks resmi oleh Uthmān hanya salah satu di antara beberapa jenis teks yang ada pada saat itu. Teks Madinah tidak ada keraguan lagi kealamiannya. Kemudian Kufa datang untuk memiliki reputasi dalam pusat kajian al-Qur’ān. Kota Nabi sendiri pada saat itu telah sangat besar dan tradisi yang berkembang di sana sangat berlimpah. Kita bahkan dapat mengatakan bahwa teks Madinah memiliki semua peluang untuk menjadi teks terbaik. Namun pertanyaan yang penting di sini untuk studi tentang sejarah teks al-Qur’ān, apakah kita dapat mengumpulkan informasi penting apapun mengenai jenis saingan teks yang ditekan untuk kepentingan edisi standar ‘Uthmān.
Dalam karya-karya mufasir dan para ahli bahasa, tidak jarang kita menemukan varian bacaan yang diawetkan dari naskah-naskah kuno. Kadang referensinya dari naskah para sahabat atau naskah tua. Ada naskah kuno dari Basra, kode Homs, dan naskah kuno dari Ahl al-Aliya. Jumlah varian yang diawetkan ini relatif kecil.

Kitab-Kitab Masaḥif
Dalam studi al-Qur’ān seorang murid dari Abu Khallad Sulaiman bin Khallad dan merupakan salah satu guru dari Ibn Mujahid dan al-Naqqash. Dia menulis sejumlah karya pada mata bidang al-Qur’ān. Dalam Fihrist, kita temukan:
Pada abad ke-4 beberapa sarjana Muslim melakukan kajian khusus terhadap fenomena Maṣāḥif ini. Salah seorang yang menyusun karya dalam bidang ini adalah Abi Dawūd (w. 316), Kitāb al-Maṣāḥif. Arthur Jeffery adalah penyunting kitab itu. Kemudian Arthur Jeffery membagi mushaf-mushaf lama itu ke dalam dua kategori utama, yaitu: mushaf primer dan mushaf sekunder.[3]
          Yang dimaksudkan dengan mushaf primer adalah mushaf dari koleksi-koleksi pribadi sahabat nabi – 15 kodeks. Sedangkan mushaf sekunder – 13 kodeks - adalah mushaf generasi selanjutnya yang bergantung pada mushaf primer. Mushaf sekunder juga mencerminkan bacaan kota-kota besar Islam. Skema antara mushaf primer dan mushaf sekunder adalah sebagai berikut:[4]


a)             Mushaf (kode) primer (Primary Codices)
Salim (w. 12)                                             ‘A’isha (w. 58)
‘Umar (w. 23)                                            Umm Salama (w. 59)
Uba‘i bin Ka‘b (w. 29)                              ‘Abdullah bin ‘Amr (w. 65)
Ibn Mas’ud (w. 33)                                   Ibn ‘Abbas (w. 68)
‘Ali (w. 40)                                                Ibn Az-Zubair (w. 73)
Abu Musa al-Ash‘ari (w. 44)                    Ubaid bin ‘Umair (w. 74)
Hafsa (w. 45)                                            Anas bin Malik (w. 91)
Zaid bin Thabit (w. 48)

b)             Mushaf (kode) sekunder (Secondary Codices)

'Alqama bin Qais (w.62)
Ar-Rabi‘ bin Khuthaim (w. 64)
Al-Harith
Al-Aswad (w. 74)                               Semua kode ini didasarkan atas kode Ibn Mas’ud
Hiṭan (w. 73)
alha
Al-A‘mash (w. 148)
Sa‘id bin Jubair (w. 94)
Mujahid (w. 101)
‘Ikrima (w. 105)
‘Ata’ bin Abi Rabah (w. 115)
Salih bin Kaisan (w. 144)
Ja’far as-Sadiq (w. 148)

          Mushaf-mushaf yang relevan untuk dibahas adalah mushaf-mushaf dalam kategori primer. Mushaf-mushaf primer ini menunjukkan upaya yang sadar dari kalangan sahabat Rasulūllāh saw untuk mengumpulkan al-Qur’ān, baik pada masa Rasūlullāh saw masih hidup dan sepeninggalnya.
          Semua informasi yang dikumpulkan mengenai naskah awal adalah yang paling penting untuk dikritik dari al-Qur’ān. Hal ini disebabkan karena tidak adanya bukti langsung dari naskah yang memberikan kita kesaksian langsung untuk jenis teks standar ‘Uthmān. Sepeti yang telah kita lihat, bahwa dalam memilih teks Madinah untuk menjadi teks resmi ‘Uthmān, memilih teks-teks terbaik yang ada.
Muncul pertanyaan, apa untuk keaslian bacaan ini dianggap berasal dari naskah kuno. Dalam beberapa kasus harus diakui jika terdapat kecurigaan dari bacaan, yang kemudian ditemukan oleh ahli bahasa. Kecurigaan ini terdapat dalam kasus pembacaan Syi’ah yang dikaitkan dengan mushaf Ibn Mas‘ud dan dalam pembacaan yang dikaitkan dengan istri-istri nabi.
          Tidak semua mushaf-mushaf primer yang telah disebutkan memiliki pengaruh terhadap masyarakat saat itu. Di antara sekian banyak mushaf primer (15 kode), hanya terdapat empat mushaf yang memiliki pengaruh penting terhadap masyarakat. Di antara mushaf tersebut adalah: 1) Ibn Mas‘ud, yang mushafnya terkenal pada masyarakat Kufah, 2) Ubay bin Ka‘b, berpengaruh pada masyarakat Syria, 3) Abu Musa al-Ash‘ari, berpengaruh besar bagi masyarakat Basrah, 4) Miqdad bin al-Aswad, yang berpengaruh pada masayarakat Hom (Hims). Yang akan dibahas di sini adalah mushaf yang dikumpulkan oleh Ibn Mas‘ud.

Mushaf Ibn Mas‘ud menurut Arthur Jeffery dan al-Suyūṭī
‘Abdullāh bin Mas‘ud adalah seorang sahabat Nabi Muḥammad saw yang mula-mula masuk Islam. Dia berasal dari kalangan strata bawah masyarakat Mekah. Ketika nabi memerintahkan pengikutnya untuk hijrah ke Abisinia, dia pergi bersama pengikut awal Islam lainnya. Dia banyak berpartisipasi dalam peperangan, seperti dalam perang Badr, perang Uhud, perang Yarmuk. IbnMas‘ud merupakan otoritas terbesar dalam al-Qur’ān.
          Ketika Ibn Mas‘ud menjadi seorang muslim, dia sepenuhnya patuh kepada Nabi Muḥammad saw. Dia ajarkan langsung oleh Nabi Muḥammad saw sekitar tujuh puluh surah dari al-Qur’ān. Sejarah menceritakan bahwa Ibn Mas‘ud merupakan salah satu dari empat orang yang Rasūllāh saw rekomendasikan kepada umatnya untuk bertanya mengenai al-Qur’ān.
          Informasi mengenai kapan Ibn Mas‘ud menyusun kodenya (mushaf) tidak didapati. Ternyata dia mulai mengumpulkan materi-materi pada masa Nabi dan sepeninggal Nabi. Setelah di tempatkan di Kufah, dia berhasil memapankan pengaruh mushafnya di kalangan masyarakat Kufah.
          Ketika ‘Uthmān mengirim mushaf resmi ke Kufah sebagai mushaf standar dan memerintahkan untuk membakar semua mushaf selain mushaf ‘Uthmāni, Ibn Mas‘ud ragu untuk memberikan mushafnya. Dia menjadi kesal atas mushaf yang dibuat oleh Zaid bin Thabit. Ketika Ibn Mas‘ud telah memeluk agama Islam, Zaid bin Thabit masih menjadi orang yang tidak percaya kepada Islam.
          Terdapat perbedaan antara mushaf ‘Uthmāni dan mushaf Ibn Mas‘ud di kalangan masyarakat Kufah. Sebagian masyarakat Kufah menerima mushaf resmi (‘Uthmāni) dan sebagian yang lain masih teguh memegang mushaf Ibn Mas‘ud yang pada waktu itu menjadi mushaf yang dihormati di Kufah. Mushaf Ibn Mas‘ud difavoritkan di kalangan Syiah, meskipun tidak semua kalangan Syiah menerimanya. Hal ini memang ditemukan di sumber Sunni dan Ahl al-Bait.
          Terdapat keganjilan pada mushaf Ibn Mas‘ud, yaitu ketiadaan surah I, CXIII dan CXIV. Surah al-Fatiḥa yang merupakan surah pembuka tidak tercantum dalam mushaf Ibn Mas‘ud. Surah al-Falaq dan al-Nas pun tidak tercantum.
          Karakteristik lain dari mushaf Ibn Mas‘ud terletak pada sususan surat yang berbeda dengan mushaf ‘Uthmāni. Urutan surahnya adalah: 1) Sab‘un Ṭiwal, 2) Main, 3) Mathani, 4) Hawamim 5) Mumtahanat, 6) Mufaṣṣalat. Mushaf tersebut memuat 111 surah.[5]
          Ada dua riwayat tentang susunan surat dalam dalam mushaf Ibn Mas‘ud. Riwayat pertama dikemukakan Ibn al-Nadim berdasarkan otoritas Ibn Shadhan, dan riwayat kedua dikemukakan oleh al-Suyuṭi mengutip pernyataan Ibn Ashtah yang kembali kepada Jarir ibn Abd al-Ḥamid.[6] Kedua riwayat tersebut bisa disajikan sebagai berikut:[7]
Fihrist
2, 4, 7, 6, 10, 9, 16, 11, 12, 17, 21, 23, 26, 37, 33, 28, 24, 8, 19, 29, 30, 36, 25, 22, 13, 34, 35, 14, 47, 31, 39, (40 bis 46), 40, 43, 41, 46, 45, 44, 48, 57, 59, 32, 50, 65, 49, 67, 64, 63, 62, 61, 72, 71, 58, 60, 66, 65, 53, 51, 52, 54, 69, 56, 68, 79, 70, 74, 73, 83, 80, 76, 75, 77, 78, 81, 82,88, 87, 92, 89, 85, 84, 96, 90, 93, 94, 86, 100, 107, 101, 98, 91, 95, 104, 105, 106, 102, 97, 103, 110, 108, 109, 111, 112.

Surah yang hilang di sini adalah surah 15, 18, 20, 27, 42, 99, selain surah yang telah dihilangkan sebelumnya (1, 113, 114). Surah-surah yang hilang di dalam Fihrist ditemukan dalam daftar al-Itqan. Di dalam Fihrist disebutkan bahwa jumlah surah dalam Mushaf Ibn Mas‘ud adalah 110, tetapi apabila dihitung hanya terdapat 105 surah.
Dalam daftar kedua di dalam al-Itqan yang ditulis al-Suyuti yang dia kutip dari Ibn Ashta kembali kepada pendapat Jarir bin ‘Abd al-Hamid (w. 188), dapat disajikan data sebagai berikut:
al-Itqan
2, 4, 3, 7, 6, 5, 10, 9, 16, 11, 12, 18, 17, 21, 20, 23, 26, 37, 33, 22, 28, 27, 24, 8, 19, 29, 30, 36, 25, 15, 13, 34, 35, 14, 38, 47, 31, 39, 40, 43, 41, 42, 46, 45, 44, 48, 59, 32, 65, 68, 49, 67, 64, 49, 67, 64, 63, 62, 61, 72, 71, 58, 60, 66, 55, 53, 52, 51, 54, 56, 79, 70, 74, 73, 83, 80, 76, 77, 75, 78, 81, 82, 88, 87, 92, 89, 85, 84, 96, 90, 93 86, 100, 107, 101, 98, 91, 95, 104, 105, 106, 102, 97, 99, 103, 110, 108, 109, 111, 112, 94.
Dalam daftar yang disajikan al-Itqan pun tidak ditemukan surah 1, 113, 114. Dalam al-Itqan hanya memuat 108 surah. Surah yang hilang daftar al-Itqan sebanyak 3 surah, yaitu 50, 57, dan 69. Namun ketiga surah yang tidak ada dalam daftar al-Itqan ditemukan dalam daftar Fihrist. Jadi kedua daftar ini berhubungan cukup dekat antara satu dengan yang lainnya.
Untuk kepentingan resensi resmi, kita temukan potongan-potongan bahan dan mengingat tempat yang paling tepat untuk menempatkan potongan tersebut. Potongan-potongan dari surah tersebut terdiri potongan Mekah dan Madinah, yang berbeda tanggal dan asalnya. Kemungkinan besar, para pengumpul surah-surah al-Qur’ān akan memberikan nama yang sama pada surah. Untuk mengungkap urutan-urutan surah yang berbeda dalam berbagai naskah, maka dibuatlah daftar surah untuk mengungkap perbedaan.
Pembacaan varian yang selau mengikuti urutan teks resmi hadir. Sumber-sumber varian secara tegas dikatakan berasal dari naskah kuno Ibn Mas‘ud. Namun terkadang juga disebutkan berasal dari para sahabat Ibn Mas‘ud. Mengingat pentingnya pembacaan dari Ibn Mas‘ud dan Ubai bin Ka‘b, semua bacaan mereka masih bertahan dan masuk dalam daftar bahwa mushaf mereka tidak bergantung pada teks konsonan berbeda dengan ‘Uthmān.

Apresiasi Terhadap Arthur Jeffery
Dalam mempelajari sejarah pengumpulan teks-teks al-Qur’ān sebelum teks ‘Uthmāni menjadi teks resmi umat Islam secara keseluruhan, Jeffery memberikan kemudahan untuk melakukan penelitian terhadap keseluruhan jenis teks dan dialek terhadap al-Qur’ān. Dia membagi mushaf-mushaf pra-‘Uthmāni kepada dua kategori besar, yaitu Mushaf Primer (Primary Codices) dan Mushaf Sekunder (Secondary Codices).
          Setelah dia membagi, dia juga menyebutkan mushaf-mushaf yang termasuk ke dalam kategori primer, begitupun mushaf-mushaf yang masuk ke dalam kategori sekunder. Namun yang menjadi perhatiannya hanya kepada mushaf primer saja. Dia tidak memberi penjelasan dan perhatian pada mushaf sekunder.
          Mushaf primer yang menjadi perhatiannya adalah Mushaf Ibn Mas‘ud, Mushaf Ubay bin Ka‘b, dan Mushaf ‘Ali. Dalam tulisannya Materials for the History or the Text of the Koran hanya tiga mushaf tersebut yang mendapatkan penjelasan.

Penutup
Al-Qur’ān adalah kitab yang di dalamnya terdapat berbagai macam pengetahuan. Dari segala sisinya dapat menjadi kajian. Fokus Jeffery dalam hal ini adalah semua materi-materi sejarah dari teks-teks al-Qur’ān.
          Banyak materi-materi di sekililing al-Qur’ān. Terdapat setidaknya 28 kode yang terbagi kepada kode primer – 15 kodeks dan kode sekunder – 13 kodeks. Kode primer adalah segala kode yang bersumber dari para sahabat Rasūlullāh saw, atau bisa disebut sebagai koleksi pribadi para sahabat. Sedangkan apa yang disebut dengan kode sekunder adalah kode dari generasi selanjutnya yang bergantung pada mushaf primer. Mushaf sekunder juga mencerminkan bacaan kota-kota besar Islam.
          Kode-kode primer yang menjadi fokus Jeffery adalah Kode Ibn Mas‘ud, Kode Ubai bin Ka‘b, dan Kode ‘Alī bin Abi Ṭalib. Dan yang menjadi fokus tulisan ini adalah kode dari Ibn Mas‘ud.
          Terdapat dua riwayat dalam menjabarkan kode Ibn Mas‘ud, yaitu riwayat yang dikeluarkan oleh al-Nadim dalam Fihrist, dan riwayat yang dikeluarkan as-Suyuṭi dalam al-Itqan.
          Terdapat perbedaan dari kedua riwayat tersebut. Perbedaan terletak pada urutan surah serta jumlah surah. Dalam Fihrist disebutkan bahwa jumlah surah dalam kode Ibn Mas‘ud sebanyak 110 surah, tetapi kenyataannya hanya memuat 105 surah.       Sedangkan dalam al-Itqan disebutkan jumlah surah dari kode Ibn Mas‘ud sebanyak 108 surah.
          Surah-surah yang hilang atau tidak ditemukan dalam Fihrist, ditemukan dalam al-Itqan dan begitu sebaliknya. Jadi kedua riwayat tersebut jelas saling melengkapi satu dengan yang lainnya.

Referensi
Amal, Taufik Adnan, Rekonstruksi Sejarah Al-Qur’an. Jakarta: Pustaka Alvabet, 2005
Jeffery, Arthur, Materials for the History of the Text of the Koran. Edited by Ibn Warraq, The Origins of the Koran: Classic Essays on Islam’s Holy Book. New York: Prometheus Books, 1998.
Ma‘rifat, Muḥammad Hadi, Sejarah Al-Qur’ān, penerjemah: Ṭoha Musawa. Jakarta: al-Huda, 2007.
As-Suyuṭi, Imam Jalaluddin, Samudra Ulumul Qur’ān, penerjemah: Farikh Marzuki, dkk. Surabaya: PT. Bina Ilmu, 2006.





[1] Lihat tulisan Arthur Jeffery, Materials for the History of the Text of the Koran. Edited by Ibn Warraq, The Origins of the Koran: Classic Essays on Islam’s Holy Book. (New York: Prometheus Books, 1998), h. 115.
[2] Imam Jalaluddin As-Suyuṭi, Samudra Ulumul Qur’ān, penerjemah: Farikh Marzuki, dkk (Surabaya: PT. Bina Ilmu, 2006), h. 306.
[3] Taufik Adnan Amal, Rekonstruksi Sejarah Al-Qur’an (Jakarta: Pustaka Alvabet, 2005), h. 183.
[4] Arthur, Materials, h. 123.
[5] Muḥammad Hadi Ma‘rifat, Sejarah Al-Qur’ān, penerjemah: Ṭoha Musawa (Jakarta: al-Huda, 2007), h. 138.
[6] Taufik, Rekonstruksi, h. 198.
[7] Arthur, Materials, h. 128-129.

Pengertian dan Dasar-Dasar Ilmu Asbabun Nuzul

17:14 Add Comment
Pengertian dan Dasar-Dasar Ilmu Asbabun Nuzul
Asbabun Nuzul al-Qur'an

Untuk lebih mantap memahami al-Qu'an, diperlukan ilmu asbabun nuzul. Yaitu ilmu tentang mengapa ayat al-Qur'an diturunkan. Meskipun sebagian dari al-Qur'an turun tanpa sebab yang umum ataupun khusus. Untuk itu, tulisan ini mencoba menerangkan pengertian asbabun nuzul dan dasar-dasar ilmu yang berkaitan dengannya. Semoga tulisan ini dapat membantu dan dishare kepada teman-teman yang lain. :D
Sebagian  besar  ayat-ayat  Al-Qur’an  pada  dasarnya  diturunkan  untuk  tujuan  umum  ini.  Tetapi  kehidupan  para  sahabat  bersama  Rasulullah  SAW  telah  menyaksikan  banyak  peristiwa  sejarah,  bahkan  kadang  terjadi  diantara  mereka  peristiwa  khusus  yang  memerlukan  penjelasan  hukum  Allah,  atau  menghadapi  masalah  yang  masih  kabur  bagi  mereka.  Kemudian  mereka  bertanya  kepada  Rasulullah  untuk  mengetahui  bagaimana  hukum  Islam  dalam  hal  itu.  Maka  Al-Qur'an  turun untuk merespon  peristiwa khusus tadi  atau pertanyaan yang muncul tadi.  Hal itu yang disebut asbab an-nuzul.
Untuk mengetahui asbab an-nuzul  secara shahih, para ulama berpegang kepada riwayat shahih yang  berasal dari Rasulullah SAW atau dari sahabat. Sebab, pemberitaan seorang sahabat mengenai hal ini, bila jelas, berarti bukan pendapatnya, tetapi ia mempunyai hukum marfu’ (disandarkan pada Rasulullah). Asbab an-nuzul Al-Qur’an berdasarkan pada riwayat atau mendengar secara langsung dengan orang-orang yang menyaksikan turunnya, mengetahui sebab-sebabnya dan membahas tentang pengetiannya serta bersungguh-sungguh dalam mencarinya, tidak diperbolehkan ‘main akal-akalan’ dalam asbab an-nuzul Al-Qur’an.

 Pengertian Asbab An-Nuzul.
Asbab an-Nuzul didefinisikan sebagai sesuatu yang karenanya Al-Qur’an diturunkan, sebagai penjelas terhadap apa yang terjadi baik berupa peristiwa maupun pertanyaan.[1]
Asbab An-Nuzul adalah sesuatu yang karenanya satu atau beberapa ayat turun membicarakannya atau menjelaskan hukumnya pada hari-hari terjadinya.
Maksudnya, ia merupakan peristiwa yang terjadi pada masa Nabi SAW atau pertanyaan yang diajukan kepada beliau, lalu turun satu atau beberapa ayat dari Allah SWT untuk menjelaskan sesuatu yang berkaitan dengan peristiwa itu atau menjawab pertanyaan tersebut, baik peristiwa itu merupakan pertikaian yang berkembang, atau peristiwa itu merupakan kesalahan besar yang dilakukan seseorang. Misalnya, seseorang yang sedang mabuk yang menjadi imam shalat, yang belum sembuh dari mabuknya, dan membaca suatu surat setelah membaca Al-Fatihah:

Dengan membuang “Laa”dari kata “Laa a’budu”. lalu Allah menurunkan ayat:
  
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan (Qs. An-Nisaa:43).[2]

Al-Wahidi berkata: diharamkan bagi setiap muslim untuk mengatakan sesuatu yang berkenaan dengan asbab an-nuzul, kecuali dengan riwayat atau mendengar langsung dari orang-orang yang menyaksikan kejadiannya, dan tahu persis sebab diturunkannya ayat tersebut. Muhammad Ibnu Sirin berkata: saya bertanya kepada Abiidah tentang sebuah ayat dalam Al-Qur’an, lalu ia menjawab: “Takutlah kepada Allah! Dan jangan berkata kecuali yang benar saja. Sesungguhnya orang-orang yang mengetahui tentang diturunkannya Al-Qur’an, mereka semua telah pergi (meninggal). Ulama lain berkata: mengetahui sebab turunnya suatu ayat adalah suatu perkara yang hanya diketahui oleh para sahabat, dengan adanya tanda-tanda yang mendukung pada hal itu. Karena tidak semua sahabat mengetahui secara persis di mana dan kapan suatu ayat itu diturunkan.
Al-Wahidi rahimahullah berkata: kita tidak mungkin mengetahui tafsir suatu ayat, tanpa mengetahui kisah yang melatarbelakanginya dan penjelasan turunnya ayat itu.
Ibnu Daqiqil Ied rahimahullah berkata: mengetahui penjelasan tentang sebab turunnya sebuah ayat adalah cara terbaik dalam memahami makna-makna Al-Qur’an.
Dan Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: mengetahui sebab turunnya suatu ayat, sangat membantu kita untuk memahami makna ayat tersebut. Karena mengetahui sebab dari turunnya ayat, bisa membuat kita lebih cepat memahami musababnya.

Macam-macam Asbab An- Nuzul
Dilihat dari sudut pandang redaksi  - redaksi  yang dipergunakan dalam riwayat asbab An – Nuzul ada dua jenis redaksi yang dapat digunakn oleh perawi dalam mengungkapkan riwayat asbab An–Nuzul ,yaitu sharih (visionable/jelas )dan muhtamilah ( impossible/kemunngkinan) Redaksi sharih artinya  riwayat yang yang sudah jelas menunjukkan asbab An-Nuzul ,redaksi yang digunakan bila perawi mengatakan :sebab turun ayat ini adalah.......atau perawi mengatakan telah terjadi ....,maka turunlah ayat...atau Rasulullah pernah ditanya tentang...,maka turunlah ayat….
Contoh riwayat asbab An-Nuzul yang menggunakan redaksi sharih adalah sebuah riwayat yang dibawakan jabir bahwa orang-orang yahudi berkata ,Apabila seorang suami mendatangi “qubul”istrinya dari belakang ,anak yang lahir akan juling,”maka turunlah ayat:

”Istri – Istrimu adalah seperti tanah tempat kamu bercocok tanam ,maka datangilah tanah tempat bercocok tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki”,(QS.Al-baqarah:223)

Mengenai riwayat asbab An-Nuzul yang menggunakan redaksi “muhtamilah” ,Az-Zarkasy menuturkan dalam kitabnya Al-burhan fi ‘ulumil Qur’an:”sebagaimana diketahui ,telah terjadi kebiasaan para sahabat Nabi dan tabi’in ,jika seorang diantara mereka berkata,’ayat ini berkenaan dengan _’maka yang dimaksud adalah ayat itu mencakup ketentuan hukum tentang ini atau itu,dan bukan bermaksud  menguraikan sebab turunnya ayat,”
1.        Dilihat dari sudut pandang Berbilangnya Asbab An-Nuzu untuk satu ayat atau Berbilangnya ayat untuk Asbab An-Nuzul.
a)      Berbilangnya Asbab an-Nuzul untuk satu ayat(Ta’addud as-sabab wanazil al-wahid).
Pada kenyataannya,tidak setiap ayat memiliki riwayat asbab an-nuzul dalam satu versi. Ada kalanya satu ayat memiliki beberapa versi riwayat asbab an-nuzul ,hal itu tidak akan menjadi persoalan selagi tidak kontradiksi ,terkadang perbedaan itu terdapat dalam redaksi atau kualitasnya.
·         Tidak mempermasalahkannya ,cara ini ditempuh apabila riwayat-riwayat asbab an – nuzul ini menggunakan redaksi muhtamilah (tidak pasti).
·         Mengambil versi riwayat asbab an-nuzul yang menggunakan redaksi sharih,cara ini digunakan bila salah satu versi riwayat asbab an-nuzul itu tidak menggunakan redaksi sharih(pasti).
·         Menagambil versi yang sahih(valid),cara ini digunakan apabila seluruh riwayat itu menggunakan redaksi “sharih”(pasti),tetapi kualitas salah satunya tidak shalih
b)     Variasi ayat untuk satu sebab(Ta’addud nazil wa as-sabab Al-wahid).
Terkadang suatu kejadian menjadi sebab bagi turunnya ,dua ayat atau lebih .

Redaksi Asbab An-Nuzul
1.        Digunakan redaksi yang secara tegas menggunakan kata sabab: “sabab nuzul ayat ini adalah begini.” Redaksi seperti ini merupakan teks yang tegas dalam menyatakan sabab,tidak mengandung pengertian lain.
2.       Tidak digunakan redaksi yang secara tegas menggunakan kata sabab, akan tetapi digunakan fa’ yang masuk materi ayat yang turun setelah penjelasan suatu peristiwa.
Yang menjadikan sebab secara tegas, itulah yang kita ambil sebagai sebab nuzul, dan yang tidak menunjukkannya secara tegas kita pahami sebagai penjelasan terhadap kandungan ayat yang bersangkutan, karena yang menunjukkan sabab secara tegas lebih kuat dari pada yang tidak tegas.[3]

Kaidah-Kaidah dalam Asbab An-Nuzul
Ada sebuah persoalan yang penting dalam pembahasan asbab an – nuzul ,misalkan telah terjadi suatu peristiwa ada suatu pertanyaan ,kemudian satu ayat turun untuk memberikan penjelasan atau jawabannya ,tetapi ungkapan  redaksi tersebut menggunakan lafaz ‘amm(umum)hingga boleh jadi mempunyai cakupan yang lebih luas dan tidak terbatas pada kasus pertanyaan itu ,maka persoalannya adalah apakah ayat tersebut harus dipahami dari keumuman lafaz atau dari sebab yang khusus (spesifik)itu.
Mayoritas ulama berpendapat bahwa yang harus menjadi pertimbangan adalah keumuman lafazh bukan kekhususan sebab(al-‘brah bi ‘umum  al-lafzhi la bikhusus as-sabab),Ibnu Taimiyah berpendapat ,bahwa banyak ayat yang diturunkan berkenaan dengan kasus tertentu bahkan kadang-kadang menunjuk pribadi seseorang ,kemudian dipahami  berlaku untuk umum .Misalkan surat al-maidah (5):49\Tentang perintah kepada nabi untuk mengadili dengan adil ,ayat ini sebenarnya diturunkan bagi kasus Bani Quraidzah dan Bani nadhir   Namun ,menurut Ibnu Taimiyah tiadak be nar jika dikatakan bahwa perintah kepada nabi itu hanya berlaku adil terhadap kedua kabilah.
Disisi lain ada juga yang berpendapat bahwa ungkapan satu lafazh Al-Qur’an harus dipandang dari segi kekhususan sebab bukan dari  keumuman lafazh,(al-‘ibrah bi khusus as-sabab la bi bi’umum al-lafazh).Adapun kasus lain yang serupa ,kalaupun mendapatkan penyelesaian yang sama ,hal itu bukan diambil dari pemahaman ayat itu ,melainkan dari dalil lain ,yaitu qiyas.

Kegunaan Mengetahui Asbab An-nuzul.
1.                    Mengetahui hikmah atau alasan dari turunnya suatu syariat atau hukum.
2.                   Takhsis (pengkhususan) suatu hukum, bagi orang-orang yang berpendapat bahwasanya “Al-Ibratu bikhushushi as-sababi”, yaitu pelajaran atau teladan itu berdasarkan pada kekhususan suatu sebab.
Adapun ayat yang diturunkan atas orang tertentu dan tak ada keumuman pada lafadznya, maka ayat itu hanya khusus untuk orang yang ayat itu turun padanya, contohnya seperti firman Allah SWT pada ayat dalam surat Al-Lail di bawah ini:

Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu.  Yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya. (Qs. Al-Lail:17-18)

Ayat ini diturunkan khusus untuk Abu Bakar ra, ini adalah ijma’ para Ulama. Dan Imam Fakhruddin Ar-Razi telah berdalil dengan ayat di atas bahwa firman Allah SWT di bawah ini:

Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (Qs.Al-Hujuraat:13)

Beliau (Fakhruddin Ar-Razi) mengatakan bahwa manusia paling utama dan paling bertaqwa setelah Rasulullah SAW adalah Abu Bakar ra. Berdasarkan dua ayat pada surat Al-lail di atas.
Sedangkan orang-orang yang menduga bahwa dua ayat surat Al-Lail di atas adalah umum buat setiap orang yang amalannya sama seperti Abu Bakar , sesuai dengan kaidah yang baru saja disebutkan, tidaklah benar adanya. Karena dua ayat pada surat Al-Lail tadi tidak ada sighat (bentuk) keumuman. Bantahlah pendapat orang-orang yang menganggapnya sebagai keumuman. Dan yang benar adalah: dua ayat pada surat Al-Lail hanya terbatas dan hanya khusus bagi orang yang ayat itu diturunkan padanya, orang itu adalah Abu Bakar ra saja.

3.                   Kadangkala lafadz suatu ayat itu bentuknya umum, tapi ada dalil lain yang mengkhususkan ayat tadi. Jika sebab turunnya ayat ini telah diketahui, maka kekhususannya hanya terbatas pada selain bentuk keumuman lafadz. Sehingga keumuman suatu lafadz telah tidak lagi dijadikan patokan karena ada sebab yang khusus untuk itu.
Seperti yang dikatakan Imam Syafi’i rahimahullah pada firman Allah SWT yang berbunyi:

Katakanlah: "Tiadalah Aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi - Karena Sesungguhnya semua itu kotor - atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha penyayang".(Qs. Al-An’am ayat 145)

Imam Syafi’i rahimahullah berkata: ketika orang-orang kafir telah menghalalkan apa yang diharamkan Allah, turunlah ayat di atas sebagai bantahan atas buruknya perbuatan mereka.
Tujuan firman Allah SWT di atas bukanlah hashr (membatasi barang-barang haram hanya pada keempat hal yang disebutkan), tapi sebagai bantahan atas perbuatan orang-orang kafir dan penetapan hakekat yang sebenarnya. Allah tidak bermaksud untuk menghalalkan hal-hal yang selain bangkai, daging babi, darah dan apa-apa yang disembelih untuk selain Allah. Tapi bermaksud menetapkan keharaman, tidak menetapkan kehalalan.
4.                  Kita bisa memahami makna suatu ayat secara lebih mendalam, dan hilanglah kemusykilan (keragu-raguan) yang selama ini masih menghantui kita.
Contoh dari ayat yang ada, adalah pernah pada suatu ketika Marwan berkata tentang Abdurrahman ibn Abu Bakar. Marwan menganggap bahwa ayat di bawah ini diturunkan atas Abdurrahman ibn Abu Bakar ra, tapi Aisyah ra Ummul Mukminin segera membantah perkataan Marwan tersebut, serta menjelaskan padanya sebab turunnya ayat ini, dalam surat Al-Ahqaf ayat 17.

 Dan orang yang Berkata kepada dua orang ibu bapaknya: "Cis bagi kamu keduanya, apakah kamu keduanya memperingatkan kepadaku bahwa Aku akan dibangkitkan, padahal sungguh Telah berlalu beberapa umat sebelumku? lalu kedua ibu bapaknya itu memohon pertolongan kepada Allah seraya mengatakan: "Celaka kamu, berimanlah! Sesungguhnya janji Allah adalah benar". lalu dia berkata: "Ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu belaka".(Qs. Al-Ahqaf ayat 17).[4]

Aisyah berkata: “Demi Allah, bukan dia yang berkaitan dengan ayat itu. Seandainya aku ingin, aku bisa menyebutkan siapa dia.: Sampai akhir kisah itu.[5]
Sebab turunnya ayat, meskipun ia khusus untuk seseorang tertentu tapi ia bisa menjadi umum hukumnya buat semua orang. Az-Zamakhsyari dalam menafsirkan surat Al-Humazah menyatakan: boleh jadi suatu sebab itu hanya dikhususkan bagi orang-orang tertentu saja, tapi ancamannya bersifat umum dan mencakup semua orang, karena ancaman ini pasti dibebankan kepada setiap orang yang melakukan suatu perbuatan buruk.[6]
5.                   Mengetahui kebijaksanaan Allah SWT secara lebih rinci mengenai syari’at yang diturunkan-Nya.[7]
6.                  Memudahkan hafalan, pemahaman dan peneguhan wahyu dalam hati setiap yang mendengarnya, bila ia mengetahui sebab nuzulnya.[8]

KESIMPULAN
Al-Qur’an Al-Karim semata memberikan hidayah kepada makhluk menuju kebenaran. Al-Qur’an memiliki latar belakang atau tujuan mengapa dan untuk apa ayat demi ayat diturunkan, itulah yang kita kenal dengan Asbab An-Nuzul. Asbab An-Nuzul adalah sesuatu yang karenanya Al-Qur’an diturunkan, sebagai penjelas terhadap apa yang terjadi berupa peristiwa atau pertanyaan. Rasulullah menghadapi situasi yang berat ketika dilontarkan pertanyaan mengenai hukum-hukum syari’at, pemecahan masalah, dll. Ketika terjadi suatu peristiwa dan pertanyaan yang diajukan kepada beliau, lalu turun satu atau beberapa ayat untuk menjelaskan sesuatu yang berkaitan dengan peristiwa itu atau menjawab pertanyaan tersebut. Kita bisa  memahami makna suatu ayat secara lebih mendalam, jika mengetahui sebab-sebab turunnya ayat tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Az-Zarqani, Muhammad Abdul Adzim, Syeikh. 2001. Manahilul ‘Irfan fi ‘Ulumil Qur’an. Jakarta:Gaya Media Pratama.
Al-Qaththan, Manna, 2004. Pengantar Study Ilmu Al-Qur’an. Jakarta:Pustaka Al-Kautsar.
As-Suyuthi, Jalal Ad-Din. Al-Ithqan fi ‘Ulumil Qur’an. Dar Al-Fikr:Beirut. Tanpa tahun.


Jika tulisan ini bermanfaat, untuk dikiranya dapat di share. :D


[1] Manna Al-Qaththan, hal.95
[2] Manahilul ‘Irfan fi ‘Ulumil Qur’an, hal.106
[3] Manahil Al-‘Irfan fi ‘Ulumil Qur’an, hal.122
[4] Al Ithqan fi ‘Ulumil Qur’an, hal.160
[5] Manahil Al-‘Irfan fi ‘Ulumil Qur’an, hal.121
[6] Al Ithqan fi ‘Ulumil Qur’an, hal.161
[7] Manahil Al-‘Irfan fi ‘Ulumil Qur’an, hal. 107
[8] Manahil Al-‘Irfan fi ‘Ulumil Qur’an, hal. 111